Pernah melihat mobil di China berhenti cukup jauh dari garis lampu merah, lalu maju ke area persimpangan sebelum benar-benar berbelok atau melaju lurus? Ternyata, pola ini bisa menjadi bagian dari sistem pengaturan lalu lintas yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi di persimpangan padat.
Salah satu penerapannya adalah area tunggu kendaraan atau waiting area. Area ini memungkinkan kendaraan tertentu maju lebih awal sesuai fase lampu lalu lintas, kemudian menunggu giliran untuk melanjutkan perjalanan.
Misalnya, kendaraan yang akan berbelok kiri dapat memasuki area tunggu ketika fase lampu mengizinkan. Sementara itu, kendaraan yang akan berjalan lurus tetap berada di belakang garis berhenti. Ketika lampu khusus belok kiri menyala, kendaraan di area tersebut bisa bergerak lebih dahulu sehingga antrean tidak menumpuk di jalur belok.
Sistem ini membantu memanfaatkan ruang persimpangan dengan lebih efisien, terutama di jalan perkotaan yang memiliki volume kendaraan tinggi. Penelitian mengenai area tunggu belok kiri di China juga menunjukkan bahwa desain ini dapat meningkatkan kapasitas jalur belok kiri. Namun, penerapannya tetap perlu memperhatikan keselamatan karena pergerakan kendaraan yang saling berpotongan bisa menimbulkan konflik jika tidak diatur dengan baik.
Meski begitu, sistem ini tidak berarti semua mobil harus berhenti jauh dari lampu merah. Posisi kendaraan bergantung pada marka jalan, desain persimpangan, serta fase lampu lalu lintas yang berlaku.
Kalau diterapkan di Indonesia, sistem seperti ini mungkin bisa membantu mengurangi antrean di persimpangan tertentu. Namun, perlu disesuaikan dengan kondisi jalan, volume kendaraan, marka, dan kedisiplinan pengendara.
Menurut kamu, apakah sistem pengaturan lalu lintas seperti ini cocok diterapkan di persimpangan padat di Indonesia?